Sanksi Disiplin Terlambat Masuk Sekolah dan Masalahnya
*Sanksi Disiplin Terlambat Masuk Sekolah dan Masalahnya*
Oleh: H. Sujaya, S.Pd. Gr.
Jurnalis aswinnews.com
Kedisiplinan merupakan salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter peserta didik. Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat menanamkan kebiasaan baik, tanggung jawab, ketepatan waktu, dan integritas.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan waktu masuk sekolah lebih awal, yakni pukul 06.30 WIB untuk jenjang SMP dan SMA/SMK. Kebijakan tersebut pada prinsipnya sejalan dengan pembiasaan positif yang diterapkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, antara lain tidur lebih awal dan bangun lebih pagi.
Artinya, kebijakan masuk sekolah lebih pagi sebenarnya bukan sekadar persoalan memajukan jam belajar. Di baliknya terdapat tujuan yang lebih besar, yaitu membangun budaya disiplin dan membentuk generasi yang mampu menghargai waktu.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih ada sekolah yang menghadapi persoalan siswa terlambat masuk sekolah. Berbagai alasan muncul, mulai dari bangun kesiangan, kurang persiapan, perjalanan yang jauh, hingga kebiasaan menunda-nunda waktu.
Dalam kondisi seperti ini, sekolah tentu perlu melakukan pembinaan. Sanksi edukatif dapat menjadi salah satu cara, misalnya memberikan arahan, pembinaan, tugas sosial yang mendidik, atau membantu membersihkan lingkungan sekolah. Tujuannya bukan untuk mempermalukan atau menghukum siswa, melainkan memberikan pengalaman agar mereka memahami konsekuensi dari ketidakdisiplinan.
Sanksi harus mendidik, bukan menyakiti.
Namun, ada persoalan yang juga perlu mendapat perhatian serius. Jangan sampai sekolah menuntut siswa disiplin, sementara sebagian guru atau tenaga kependidikan justru datang terlambat tanpa ada pembinaan atau evaluasi.
Di sinilah pentingnya keteladanan.
Guru merupakan sosok yang setiap hari dilihat dan ditiru oleh peserta didik. Pesan tentang disiplin akan jauh lebih kuat ketika disampaikan melalui tindakan nyata. Ketika guru datang tepat waktu, siswa belajar menghargai waktu. Ketika guru menjalankan aturan dengan konsisten, siswa belajar tentang tanggung jawab dan integritas.
Sebaliknya, apabila aturan hanya berlaku bagi siswa, sementara orang dewasa di lingkungan sekolah seolah mendapatkan pengecualian, maka pesan pendidikan yang diterima siswa dapat menjadi kontradiktif.
Karena itu, kepala sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya disiplin yang adil, objektif, dan konsisten. Pengawasan tidak hanya ditujukan kepada siswa, tetapi juga kepada seluruh warga sekolah. Jika memang terdapat pelanggaran disiplin oleh guru atau tenaga kependidikan, semestinya ada mekanisme pembinaan sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk teguran atau surat peringatan apabila diperlukan.
Hal ini bukan berarti sekolah harus menjadi tempat yang penuh hukuman. Justru sebaliknya, sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya kesadaran.
Aturan dibuat bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk membangun kebiasaan yang benar.
Penerapan disiplin juga sebaiknya dilakukan secara manusiawi. Sekolah perlu melihat penyebab keterlambatan secara objektif. Siswa yang terlambat karena kelalaian tentu berbeda dengan siswa yang menghadapi kendala transportasi, kondisi keluarga, atau keadaan tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, penanganan keterlambatan harus mengedepankan prinsip tegas tetapi mendidik, disiplin tetapi manusiawi, serta adil tanpa pilih kasih.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan karakter tidak dapat dibebankan hanya kepada siswa. Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan seluruh warga sekolah harus menjadi bagian dari budaya tersebut.
Jika kita ingin melahirkan generasi yang disiplin, maka kita harus terlebih dahulu memberikan contoh kedisiplinan.
Jika kita ingin anak-anak memiliki integritas, maka orang dewasa di sekitarnya harus menunjukkan integritas.
Dan jika kita ingin sekolah menjadi tempat tumbuhnya karakter unggul, maka keteladanan harus dimulai dari para pendidiknya.
Mari menjadikan disiplin bukan sebagai beban, melainkan sebagai kebiasaan baik. Datang tepat waktu bukan sekadar memenuhi aturan sekolah, tetapi merupakan latihan sederhana untuk menghargai waktu, menghormati orang lain, dan mempersiapkan diri menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Karena pendidikan yang paling kuat bukan hanya apa yang dikatakan guru, tetapi apa yang dicontohkan setiap hari.
Indramayu. 19/8/2026
