Salah Kaprah dalam Pembiasaan Kegiatan Literasi Sekolah : Sebuah Autokritik
Oleh : H. Sujaya, S. Pd. Gr.
(Guru SMPN 3 Sindang. Pegiat Literasi Sekolah. Penulis 36 Buku ber-ISBN)
*Pendahuluan*
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sejak awal digagas sebagai ikhtiar strategis untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat melalui penguatan kemampuan literasi peserta didik. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis secara teknis, tetapi juga sebagai kecakapan memahami, mengolah, dan memaknai informasi secara kritis dan reflektif. Namun, dalam praktiknya, pembinaan kegiatan literasi sekolah kerap mengalami berbagai salah kaprah yang justru menjauhkan literasi dari tujuan hakikinya.
Di banyak sekolah, kegiatan literasi sering direduksi menjadi rutinitas administratif, seremonial, bahkan formalitas belaka. Akibatnya, literasi kehilangan daya hidupnya sebagai gerakan kultural yang seharusnya tumbuh secara alami, menyenangkan, dan membebaskan. Esai ini membahas beberapa kekeliruan umum dalam pembinaan literasi sekolah, sekaligus mengurai esensi literasi, fokus pembiasaan membaca buku, serta ragam kegiatan literasi yang mampu menumbuhkan cinta buku dan membaca.
*Salah Kaprah dalam Pembinaan Kegiatan Literasi Sekolah*
Salah satu kekeliruan utama dalam pembinaan literasi sekolah adalah menyamakan literasi dengan sekadar kewajiban membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan ini sering dijalankan secara kaku, tanpa pendampingan, tanpa refleksi, dan tanpa tindak lanjut. Siswa membaca karena diwajibkan, bukan karena kebutuhan atau ketertarikan. Dalam kondisi seperti ini, literasi berubah menjadi rutinitas kosong makna.
Salah kaprah berikutnya adalah menilai keberhasilan literasi dari banyaknya laporan, dokumentasi, atau jumlah buku yang dibaca, bukan dari perubahan sikap, minat, dan kebiasaan siswa terhadap membaca. Tidak jarang sekolah sibuk membuat laporan literasi yang rapi, tetapi peserta didik justru tidak mengalami pertumbuhan kecintaan terhadap buku.
Selain itu, literasi juga sering dipersempit hanya sebagai tanggung jawab guru Bahasa Indonesia. Padahal, literasi adalah ruh dari semua mata pelajaran. Ketika guru mata pelajaran lain merasa tidak berkewajiban terlibat dalam kegiatan literasi, maka literasi kehilangan sifatnya sebagai gerakan bersama.
Salah kaprah lain yang tak kalah penting adalah memaksakan jenis bacaan yang tidak sesuai usia, minat, dan konteks siswa. Buku yang terlalu berat, terlalu akademis, atau tidak relevan dengan dunia siswa justru membuat literasi terasa membosankan dan menekan.
*Esensi Kegiatan Literasi Sekolah*
Pada hakikatnya, kegiatan literasi sekolah bertujuan untuk membangun budaya berpikir, bukan sekadar menuntaskan bacaan. Literasi adalah proses memanusiakan manusia melalui interaksi dengan teks, gagasan, dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam bacaan.
Esensi literasi sekolah mencakup beberapa dimensi utama.
Pertama, literasi sebagai proses pembiasaan. Literasi tidak bisa tumbuh secara instan, tetapi memerlukan lingkungan yang konsisten, ramah, dan mendukung. Kedua, literasi sebagai proses pemaknaan. Membaca bukan sekadar melafalkan kata, tetapi memahami, mengaitkan, dan merefleksikan isi bacaan dengan pengalaman hidup.
Ketiga, literasi sebagai sarana pembentukan karakter. Melalui buku, siswa belajar empati, kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Oleh karena itu, literasi sejatinya berkelindan erat dengan pendidikan karakter.
Keempat, literasi sebagai gerakan sosial sekolah. Literasi tidak akan hidup jika hanya berjalan di ruang kelas. Ia harus hadir di sudut sekolah, lorong kelas, taman baca, bahkan dalam percakapan sehari-hari antara guru dan siswa.
*Literasi Sekolah Fokus Pembiasaan Membaca Buku. Bukan yang Lain*
Meskipun literasi memiliki cakupan luas—termasuk literasi numerasi, sains, digital, dan finansial—namun fondasi utama literasi sekolah tetaplah pembiasaan membaca buku.
Buku merupakan jendela dunia yang memungkinkan siswa mengenal beragam perspektif, budaya, dan pemikiran.
Pembiasaan membaca buku di sekolah seharusnya diarahkan pada pengalaman membaca yang menyenangkan, bukan pengalaman yang menekan. Membaca tidak harus selalu diikuti dengan tugas rangkuman atau soal.
Pada tahap awal, membaca cukup dimaknai sebagai aktivitas personal yang memberi kenikmatan dan ketenangan. Sekolah perlu memastikan ketersediaan buku yang beragam, bermutu, dan sesuai dengan minat siswa, mulai dari cerita rakyat, novel remaja, komik edukatif, biografi inspiratif, hingga buku pengetahuan populer. Dengan demikian, siswa memiliki kebebasan memilih bacaan, yang merupakan kunci tumbuhnya minat baca.
Pembiasaan membaca buku juga harus didukung oleh keteladanan guru dan tenaga kependidikan. Ketika siswa melihat guru gemar membaca, berbagi cerita buku, dan menjadikan buku sebagai sumber inspirasi, maka literasi akan tumbuh secara alami.
*Kegiatan-kegiatan Literasi yang Menumbuhkan Cinta Buku dan Membaca*
Agar literasi benar-benar menumbuhkan cinta buku dan membaca, sekolah perlu mengembangkan kegiatan literasi yang kreatif, kontekstual, dan partisipatif.
Beberapa kegiatan yang efektif antara lain:
Pertama, pojok baca dan sudut literasi tematik di kelas maupun area sekolah. Ruang baca yang nyaman, estetik, dan ramah anak mampu mengundang siswa untuk membaca tanpa paksaan.
Kedua, sesi berbagi buku atau book talk. Siswa diberi kesempatan menceritakan buku yang mereka baca secara lisan dengan gaya bebas. Kegiatan ini menumbuhkan rasa bangga dan kepercayaan diri sebagai pembaca.
Ketiga, hari literasi atau pekan literasi sekolah yang diisi dengan lomba mendongeng, baca puisi, resensi buku, pameran karya tulis, dan bedah buku sederhana. Kegiatan semacam ini menjadikan literasi sebagai perayaan, bukan kewajiban.
Keempat, jurnal membaca reflektif, bukan rangkuman kaku. Siswa menuliskan kesan, pelajaran, atau tokoh favorit dari buku yang dibaca. Dengan cara ini, membaca menjadi aktivitas personal dan bermakna.
Kelima, kolaborasi literasi lintas mata pelajaran. Guru IPS, IPA, PPKn, dan mata pelajaran lain dapat mengaitkan materi dengan bacaan populer atau kisah inspiratif yang relevan.
*Penutup*
Salah kaprah dalam pembinaan kegiatan literasi sekolah sering kali bersumber dari cara pandang yang sempit dan administratif. Literasi diperlakukan sebagai program, bukan sebagai budaya. Padahal, literasi sejatinya adalah gerakan kultural yang hidup dari kebiasaan, keteladanan, dan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan.
Dengan memahami esensi literasi sekolah, memfokuskan pembiasaan membaca buku, serta mengembangkan kegiatan literasi yang kreatif dan humanis, sekolah dapat menjadikan literasi sebagai kekuatan transformasi pendidikan. Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi tentang membangun manusia pembelajar yang kritis, berkarakter, dan beradab.
Indramayu. 20/1/2026
Sumber:
https://menaramadinah.com/110186/salah-kaprah-dalam-pembiasaan-kegiatan-literasi-sekolah-sebuah-autokritik.html
