Inspirasi Moment Peringatan Hari Kartini di Mata Generasi Z SMPN 3 Sindang Indramayu

 


Inspirasi Moment Peringatan Hari Kartini di Mata Generasi Z SMPN 3 Sindang Indramayu


Indramayu. 21/4/2026

Di halaman SMPN 3 Sindang yang pagi itu dipenuhi warna-warni kebaya dan batik, suasana Hari Kartini terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi bagi generasi Z—generasi yang lahir di tengah derasnya arus digital, namun tetap mencari makna perjuangan di tengah zaman yang serba instan.


Pada peringatan Hari Kartini tahun ini bertema " Perempuan berdaya, wanita terlindungi  menuju Indonesia Emas 2045 ". Nama R. Ajeng Kartini kembali menggema, bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai inspirasi yang hidup dalam pikiran para siswa. Mereka tidak lagi sekadar menghafal biografi, tetapi mulai memahami esensi perjuangannya—tentang keberanian berpikir, kebebasan bermimpi, dan tekad melampaui batas yang ditentukan oleh keadaan.


Di sudut kelas, sekelompok siswa tampak berdiskusi tentang isi buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Mereka membandingkan isi surat Kartini dengan realitas masa kini. “Kalau Kartini hidup sekarang, mungkin beliau jadi content creator yang mengedukasi perempuan,” celetuk salah satu siswa, disambut tawa sekaligus anggukan setuju. Cara berpikir mereka sederhana, tetapi penuh makna—bahwa perjuangan bisa hadir dalam bentuk yang relevan dengan zamannya.


Generasi Z di SMPN 3 Sindang memahami bahwa emansipasi bukan lagi sekadar soal akses pendidikan, tetapi juga tentang keberanian bersuara, menghargai perbedaan, dan membangun karakter yang kuat. Mereka melihat Kartini bukan hanya sebagai simbol perempuan, tetapi sebagai simbol perubahan—bahwa siapa pun, laki-laki maupun perempuan, memiliki hak yang sama untuk berkembang.


Momentum Hari Kartini pun menjadi ruang belajar yang hidup. Bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menata masa depan. Para siswa belajar bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi dari keberanian kecil untuk berpikir berbeda, menulis gagasan, dan menyuarakan kebenaran—seperti yang pernah dilakukan Kartini melalui surat-suratnya.


Di tengah era digital yang penuh tantangan, semangat Kartini justru menemukan relevansinya kembali. Generasi Z SMPN 3 Sindang menyadari bahwa “gelap” masa kini bisa berupa hoaks, diskriminasi, atau krisis karakter. Dan “terang” yang mereka perjuangkan adalah literasi, empati, serta integritas.


Hari itu, Kartini tidak hanya dikenang. Ia seakan hadir di tengah-tengah mereka—dalam semangat belajar, dalam keberanian bermimpi, dan dalam tekad untuk menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.


Karena bagi generasi Z SMPN 3 Sindang, Kartini bukan sekadar sejarah. Ia adalah cahaya yang terus menuntun langkah menuju masa depan yang lebih setara dan bermartabat.


Sementara itu perwakilan guru dari 

Guru BK yang kami wawancarai, Rindang Oktavia Sari, S. Pd. 


1. Apa arti Hari Kartini bagi Anda ?

Hari Kartini bagi saya adalah momen untuk mengenang perjuangan Ibu Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan. Hari ini juga menjadi pengingat bagi generasi muda untuk terus belajar, berkembang, dan berani meraih cita-cita tanpa batasan.


2. Apakah perjuangan emansipasi dan kesetaraan gender masih relevan?

Menurut saya, perjuangan emansipasi dan kesetaraan gender masih sangat relevan hingga saat ini. Walaupun sudah banyak kemajuan, masih ada perbedaan perlakuan dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan di beberapa bidang. Karena itu, semangat perjuangan Kartini perlu terus dilanjutkan.


3. Apakah di lingkungan masyarakat masih ada stigma negatif terhadap perempuan?

Di beberapa lingkungan, stigma negatif terhadap perempuan masih ada, seperti anggapan bahwa perempuan memiliki keterbatasan dalam memimpin atau berkarier. Namun, saat ini sudah banyak perubahan ke arah yang lebih baik, di mana perempuan mulai mendapatkan kesempatan yang sama.


4. Apa yang harus dibenahi dan diperjuangkan?

Menurut saya, yang harus dibenahi adalah pola pikir masyarakat agar lebih terbuka dan menghargai kemampuan perempuan. Selain itu, penting juga memberikan akses pendidikan dan kesempatan yang sama bagi semua, tanpa memandang gender. Generasi muda harus berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang adil, saling menghargai, dan bebas dari diskriminasi.


Reporter : Sujaya