Memupuk Cinta Budaya dan Kearifan Lokal melalui Praktik Pentas Seni Mata Pelajaran Seni Budaya di SMPN 3 Sindang
Memupuk Cinta Budaya dan Kearifan Lokal melalui Praktik Pentas Seni Mata Pelajaran Seni Budaya di SMPN 3 Sindang
Oleh : Sujaya, S. Pd. Gr.
Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, tantangan terbesar dunia pendidikan bukan hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang memiliki identitas budaya yang kuat. Budaya lokal sebagai akar jati diri bangsa perlu ditanamkan sejak dini agar tidak tergerus oleh budaya luar yang datang tanpa batas. Dalam konteks inilah, praktik pentas seni dalam mata pelajaran Seni Budaya di SMPN 3 Sindang menjadi salah satu strategi edukatif yang tidak hanya menarik, tetapi juga sarat makna.
Pentas seni bukan sekadar ajang unjuk bakat atau hiburan semata. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ruang ekspresi bagi siswa untuk mengenal, memahami, dan mencintai budaya daerahnya. Melalui tari tradisional, musik daerah, drama lokal, hingga seni rupa khas Indramayu, siswa diajak untuk menyelami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap karya budaya. Proses ini menjadi penting karena budaya tidak cukup hanya diajarkan, tetapi harus dialami secara langsung agaruv membekas dalam jiwa.
SMPN 3 Sindang menjadikan praktik pentas seni sebagai bagian integral dari pembelajaran Seni Budaya. Siswa tidak hanya menerima teori di dalam kelas, tetapi juga dilibatkan dalam proses kreatif mulai dari perencanaan, latihan, hingga pementasan. Dalam proses ini, mereka belajar banyak hal: kerja sama tim, disiplin, tanggung jawab, hingga keberanian tampil di depan umum. Nilai-nilai karakter ini tumbuh secara alami melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan menyenangkan.
Lebih jauh, pentas seni juga menjadi sarana revitalisasi kearifan lokal. Di tengah dominasi budaya populer, kegiatan ini menjadi “ruang hidup” bagi seni tradisional agar tetap dikenal oleh generasi muda. Misalnya, ketika siswa menampilkan tarian daerah atau musik tradisional, secara tidak langsung mereka turut melestarikan warisan budaya yang mungkin mulai jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, tidak sedikit siswa yang awalnya tidak mengenal budaya daerahnya, menjadi bangga setelah terlibat dalam pementasan tersebut.
Dari sisi pedagogis, pendekatan ini selaras dengan prinsip pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dan pendekatan deep learning dalam Kurikulum Merdeka. Siswa tidak hanya menghafal, tetapi memahami makna di balik setiap gerakan, irama, dan cerita yang mereka tampilkan. Mereka diajak untuk merefleksikan nilai-nilai budaya seperti gotong royong, hormat kepada orang tua, dan keseimbangan dengan alam. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berdampak jangka panjang.
Selain itu, pentas seni juga mempererat hubungan antarwarga sekolah. Guru, siswa, dan bahkan orang tua dapat terlibat dalam kegiatan ini, menciptakan suasana kebersamaan yang harmonis. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi pusat kebudayaan yang hidup dan dinamis. Hal ini sejalan dengan peran sekolah sebagai agen pelestarian budaya di tengah masyarakat.
Inspirasi terbesar dari kegiatan ini adalah tumbuhnya rasa bangga terhadap budaya sendiri. Ketika siswa mampu tampil percaya diri membawakan kesenian daerah, di situlah benih kecintaan terhadap budaya mulai bersemi. Mereka tidak lagi memandang budaya lokal sebagai sesuatu yang kuno, tetapi sebagai kekayaan yang harus dijaga dan diwariskan.
Pada akhirnya, praktik pentas seni di SMPN 3 Sindang bukan hanya kegiatan seremonial, melainkan sebuah gerakan pendidikan yang strategis. Gerakan ini menanamkan nilai, membangun karakter, sekaligus menjaga identitas bangsa. Dari panggung sederhana di sekolah, lahirlah generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakar kuat pada budaya dan kearifan lokalnya.
Inilah bukti bahwa pendidikan yang baik bukan hanya mengajarkan tentang dunia, tetapi juga tentang siapa diri kita sebenarnya.
Indramayu. 22/4/2026
