Grup Eskul Seni Hadroh SMPN 3 Sindang: Bersholawat, Berdakwah dan Melestarikan Seni Islami
Grup Eskul Seni Hadroh SMPN 3 Sindang: Bersholawat, Berdakwah dan Melestarikan Seni Islami
Indramayu, 22 Mei 2026
Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital yang begitu cepat memengaruhi kehidupan generasi muda, keberadaan seni Islami menjadi sangat penting sebagai penyeimbang spiritual dan pembentuk karakter. Salah satu warisan budaya Islam yang tetap hidup dan berkembang di lingkungan pendidikan adalah seni hadroh. Di SMPN 3 Sindang, seni hadroh tidak sekadar menjadi kegiatan ekstrakurikuler biasa, tetapi telah tumbuh menjadi media dakwah, sarana pembentukan akhlak, serta wadah kreativitas religius para siswa.
Seni hadroh merupakan seni musik Islami yang menggunakan alat musik tabuhan seperti rebana, bass hadroh, tam, dan kecrek, yang diiringi lantunan shalawat, pujian kepada Allah SWT, serta sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW. Kata hadhrah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “kehadiran”, yaitu menghadirkan suasana dzikir, spiritualitas, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Di tangan para siswa SMPN 3 Sindang, seni hadroh menjadi lebih dari sekadar pertunjukan musik. Setiap dentuman rebana dan lantunan shalawat mengandung pesan dakwah yang menyejukkan hati. Para siswa belajar bahwa seni bukan hanya hiburan, tetapi juga media menyampaikan nilai-nilai kebaikan, persaudaraan, dan cinta kepada agama.
Grup ekstrakurikuler seni hadroh SMPN 3 Sindang tampil aktif dalam berbagai kegiatan sekolah maupun kegiatan keagamaan. Mereka kerap mengisi acara peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mi’raj, pengajian sekolah, hingga berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungan masyarakat. Kehadiran mereka mampu menghadirkan suasana religius yang penuh semangat dan kekhidmatan.
Keberadaan eskul hadroh ini juga menjadi bukti bahwa generasi muda masih memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya Islam Nusantara. Di tengah maraknya musik modern dan hiburan digital, para siswa tetap bangga memainkan rebana dan melantunkan shalawat. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi Islami masih memiliki tempat istimewa di hati generasi muda.
Lebih dari itu, kegiatan hadroh juga mengajarkan banyak nilai kehidupan. Dalam setiap latihan, siswa dilatih untuk disiplin, kompak, bertanggung jawab, dan saling menghargai. Mereka belajar menjaga irama bersama, menyatukan suara, dan membangun harmoni dalam kelompok. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya menjadi pondasi penting dalam membentuk karakter pelajar yang berakhlak mulia.
Seni hadroh juga menjadi sarana positif untuk menyalurkan bakat dan energi generasi muda ke arah yang lebih bermanfaat. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memperoleh keterampilan seni musik Islami, tetapi juga memperkuat mental spiritual serta rasa percaya diri mereka saat tampil di depan publik.
Salah satu jenis hadroh yang cukup populer dan juga menjadi inspirasi dalam pengembangan seni hadroh di Indonesia adalah Al-Banjari yang dikenal dengan irama cepat, dinamis, dan penuh semangat. Irama tersebut mampu membangkitkan antusiasme sekaligus menghadirkan nuansa religius yang mendalam.
Apa yang dilakukan SMPN 3 Sindang dalam melestarikan seni hadroh patut diapresiasi sebagai bentuk pendidikan karakter berbasis budaya dan spiritualitas. Sekolah tidak hanya berperan mencetak siswa cerdas secara akademik, tetapi juga membangun generasi yang beriman, berbudaya, dan mencintai tradisi Islami.
Melalui grup eskul seni hadroh, SMPN 3 Sindang telah membuktikan bahwa pendidikan dapat berjalan harmonis dengan dakwah dan pelestarian budaya. Lantunan shalawat yang menggema dari ruang latihan hingga panggung-panggung kegiatan sekolah menjadi simbol semangat generasi muda yang terus menjaga cahaya Islam dengan seni yang indah dan penuh makna.
Sujaya
