Memotivasi Siswa dalam Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk Meningkatkan Semangat Membaca melalui Inspirasi Keteladanan Menulis Buku di SMPN 3 Sindang Indramayu



 MAKALAH PRAKTIK BAIK


Memotivasi Siswa dalam Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk Meningkatkan Semangat Membaca melalui Inspirasi Keteladanan Menulis Buku di SMPN 3 Sindang Indramayu


Oleh : Sujaya, S. Pd. Gr. 


**BAB I


PENDAHULUAN**


A. Latar Belakang


Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan program strategis yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis di lingkungan pendidikan. GLS tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dasar, tetapi juga pada pengembangan literasi kritis, reflektif, dan produktif.


Namun dalam praktiknya, minat baca siswa masih tergolong rendah. Menurut Tarigan (2008), membaca merupakan keterampilan berbahasa yang sangat penting, tetapi sering kali kurang diminati karena tidak ditanamkan melalui pengalaman yang menyenangkan. Selain itu, pengaruh teknologi digital juga menyebabkan siswa lebih tertarik pada gawai dibandingkan buku.


Di SMPN 3 Sindang Indramayu, upaya meningkatkan semangat membaca dilakukan melalui pendekatan inspiratif, yaitu menghadirkan keteladanan nyata dari guru yang telah menulis dan menerbitkan buku. Pendekatan ini selaras dengan teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura yang menekankan bahwa individu belajar melalui observasi dan peniruan terhadap model.


B. Rumusan Masalah


1. Bagaimana memotivasi siswa dalam GLS agar lebih semangat membaca?


2. Bagaimana peran keteladanan guru dalam meningkatkan budaya literasi?


3. Apa saja praktik baik yang dapat diterapkan dalam GLS berbasis inspirasi karya buku?


C. Tujuan


1. Meningkatkan semangat membaca siswa.


2. Menumbuhkan budaya literasi melalui keteladanan guru.


3. Mendeskripsikan praktik baik GLS berbasis karya nyata.


**BAB II


KAJIAN TEORI**


A. Gerakan Literasi Sekolah (GLS)


GLS merupakan gerakan partisipatif yang melibatkan seluruh warga sekolah untuk membangun budaya literasi. Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (2016), GLS bertujuan untuk menumbuhkan budi pekerti melalui pembiasaan membaca.


Lebih lanjut, Brian Street (1984) dalam teori New Literacy Studies menyatakan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi juga praktik sosial yang berkaitan dengan konteks budaya.


B. Motivasi Belajar


Motivasi merupakan faktor penting dalam keberhasilan belajar. Sardiman A.M. (2011) menyatakan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar.


Sementara itu, Abraham Maslow (1954) melalui teori hierarki kebutuhan menjelaskan bahwa motivasi akan muncul ketika kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri terpenuhi. Dalam konteks GLS, kegiatan literasi dapat menjadi sarana aktualisasi diri siswa.


Selain itu, Deci dan Ryan (2000) menekankan pentingnya motivasi intrinsik yang muncul dari dalam diri individu ketika mereka merasa kompeten, otonom, dan memiliki keterhubungan sosial.


C. Keteladanan dalam Pendidikan


Keteladanan merupakan metode pendidikan yang sangat efektif. Ki Hajar Dewantara menegaskan prinsip pendidikan: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang berarti guru harus menjadi teladan di depan.


Dalam perspektif psikologi, Albert Bandura menjelaskan bahwa perilaku seseorang terbentuk melalui proses observasi terhadap model. Dengan demikian, guru yang aktif menulis buku akan menjadi model literasi yang kuat bagi siswa.


**BAB III


PELAKSANAAN PRAKTIK BAIK**


A. Deskripsi Umum


Praktik baik ini dilaksanakan melalui integrasi kegiatan GLS dengan penguatan inspirasi dari karya guru. Guru tidak hanya sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai role model literasi.


B. Bentuk-Bentuk Praktik Baik


1. Tanya Jawab Isi Buku dengan Hadiah Buku Karya Guru


Kegiatan ini dilakukan setelah siswa membaca buku. Guru memberikan pertanyaan, dan siswa yang mampu menjawab mendapatkan hadiah buku karya guru.


Landasan Teori:

Menurut B.F. Skinner, pemberian reward dapat memperkuat perilaku positif (reinforcement).


2. Pameran Buku Karya Guru


Sekolah menyelenggarakan pameran buku hasil karya guru.


Landasan Teori:

Menurut Jerome Bruner, pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa menemukan sendiri makna melalui pengalaman nyata.


3. Review Buku dengan Hadiah Buku Karya Guru


Siswa membuat ulasan buku sebagai bentuk refleksi.


Landasan Teori:

Menurut Benjamin Bloom, kegiatan review termasuk dalam ranah kognitif tingkat tinggi (analisis dan evaluasi).


4. Menampilkan Guru dan Siswa yang Memiliki Karya Buku


Memberikan apresiasi terhadap karya.


Landasan Teori:

Menurut Carl Rogers, penghargaan positif (positive regard) meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi.


5. Mengenalkan Guru dengan Karya Buku Terbanyak


Menyampaikan kisah inspiratif guru.


Landasan Teori:

Teori modeling dari Albert Bandura.


6. Menulis Buku Bersama Guru dan Siswa


Kegiatan kolaboratif hingga penerbitan buku.


Landasan Teori:

Menurut Lev Vygotsky, pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dalam Zone of Proximal Development (ZPD).


**BAB IV


HASIL DAN DAMPAK**


A. Hasil yang Dicapai


Meningkatnya minat baca siswa


Bertambahnya karya literasi siswa


Terbentuknya budaya literasi positif


B. Dampak Positif


Siswa lebih aktif dalam GLS


Terbangunnya ekosistem literasi sekolah


Guru menjadi role model literasi. 


**BAB V


KESIMPULAN DAN SARAN**


A. Kesimpulan


Praktik baik GLS berbasis keteladanan guru menulis buku terbukti efektif meningkatkan motivasi dan semangat membaca siswa. Pendekatan ini didukung oleh teori motivasi, konstruktivisme, dan pembelajaran sosial.


B. Saran


1. Kegiatan dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan


2. Dukungan sekolah terhadap karya literasi perlu ditingkatkan


3. Kolaborasi dengan komunitas literasi dan penerbit perlu diperluas



DAFTAR PUSTAKA


Bandura, Albert. (1977). Social Learning Theory. New Jersey: Prentice Hall.


Bloom, Benjamin S. (1956). Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman.


Bruner, Jerome. (1960). The Process of Education. Harvard University Press.


Deci, Edward L., & Ryan, Richard M. (2000). Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior. New York: Springer.


Dewantara, Ki Hajar. (1977). Pendidikan. Yogyakarta: Taman Siswa.


Kemendikbud. (2016). Panduan Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta.


Maslow, Abraham. (1954). Motivation and Personality. New York: Harper & Row.


Rogers, Carl. (1961). On Becoming a Person. Boston: Houghton Mifflin.


Sardiman, A.M. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.


Street, Brian. (1984). Literacy in Theory and Practice. Cambridge University Press.


Tarigan, Henry Guntur. (2008). Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.


Vygotsky, Lev S. (1978). Mind in Society. Harvard University Press.


Skinner, B.F. (1953). Science and Human Behavior. New York: Macmillan.