Urgensi Literasi Seni dan Kearifan Lokal Nusantara bagi Generasi Muda Gen Z


 

Urgensi Literasi Seni dan Kearifan Lokal Nusantara bagi Generasi Muda Gen Z


Oleh : H. Sujaya, S. Pd. Gr. 

Guru SMPN 3 Sindang


Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi digital, generasi muda—khususnya Gen Z—hidup dalam dunia yang serba cepat, instan, dan tanpa batas. Informasi dari berbagai penjuru dunia dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan besar: semakin memudarnya pemahaman dan kecintaan terhadap seni serta kearifan lokal Nusantara. Oleh karena itu, literasi seni dan kearifan lokal menjadi sangat urgen untuk ditanamkan pada generasi muda sebagai benteng identitas sekaligus sumber inspirasi dalam menghadapi masa depan.


Literasi seni tidak hanya sebatas kemampuan mengenali atau menikmati karya seni, tetapi juga memahami makna, nilai, dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Begitu pula dengan kearifan lokal, yang merupakan warisan nilai luhur dari nenek moyang, seperti gotong royong, toleransi, keselarasan dengan alam, dan etika sosial. Nilai-nilai ini tidak hanya relevan di masa lalu, tetapi juga menjadi solusi atas berbagai persoalan modern seperti krisis moral, individualisme, dan degradasi lingkungan.


Bagi Gen Z yang dikenal kreatif, adaptif, dan dekat dengan teknologi, literasi seni dan kearifan lokal justru dapat menjadi sumber inovasi yang tak terbatas. Seni tradisional seperti tari daerah, musik etnik, batik, hingga sastra lisan dapat dikemas ulang melalui media digital menjadi konten yang menarik dan bernilai ekonomi. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi konsumen budaya global, tetapi juga produsen budaya lokal yang mampu bersaing di kancah internasional.


Lebih dari itu, literasi seni dan kearifan lokal juga berperan penting dalam membangun karakter. Melalui pemahaman terhadap budaya sendiri, generasi muda akan memiliki rasa bangga, percaya diri, dan identitas yang kuat. Mereka tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh negatif budaya luar, melainkan mampu menyaring dan mengadaptasi nilai-nilai yang sesuai dengan jati diri bangsa.


Dalam konteks pendidikan, integrasi literasi seni dan kearifan lokal perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktik langsung, seperti pentas seni, proyek budaya, eksplorasi tradisi lokal, hingga kolaborasi dengan seniman dan budayawan. Pendekatan ini akan memberikan pengalaman bermakna (meaningful learning) yang membekas dalam diri peserta didik.


Akhirnya, menjaga dan mengembangkan seni serta kearifan lokal bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku budaya, tetapi juga generasi muda itu sendiri. Gen Z memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Dengan literasi seni dan kearifan lokal yang kuat, mereka tidak hanya menjadi pewaris budaya, tetapi juga pencipta peradaban masa depan yang berakar pada nilai-nilai luhur Nusantara.


Maka, sudah saatnya kita menempatkan literasi seni dan kearifan lokal sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap. Karena di sanalah tersimpan jati diri, kebijaksanaan, dan kekuatan bangsa yang akan menuntun generasi muda menuju masa depan yang berkarakter, kreatif, dan berdaya saing global.


Indramayu. 5/5/2026