SURVIVING IN SILENCE - Bertahan dalam Hening
SURVIVING IN SILENCE
Bertahan dalam Hening
Nama saya Sujaya. Saya seorang guru PNS yang telah mengabdikan sebagian besar hidup untuk dunia pendidikan. Pada usia 59 tahun, saya merasa hidup berjalan sebagaimana mestinya. Hari-hari saya diisi dengan mengajar, menulis, membimbing siswa, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga. Saya tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kabar medis akan mengubah cara saya memandang kehidupan untuk selamanya.
Awal Desember 2025 menjadi salah satu masa paling berat dalam hidup saya. Setelah mengalami gangguan kesehatan yang terus berulang, saya menjalani serangkaian pemeriksaan medis. Hasil pemeriksaan itu membawa saya pada kenyataan yang sulit diterima. Dokter menyampaikan bahwa saya menderita kanker usus bawah (rektum).
Saat mendengar vonis tersebut, dunia seakan berhenti berputar. Kata-kata dokter terdengar samar di telinga. Pikiran saya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Mengapa saya? Mengapa sekarang? Apa yang akan terjadi pada keluarga saya? Bagaimana masa depan saya?
Dokter kemudian menjelaskan bahwa saya harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut berupa tindakan bedah radikal. Penjelasan itu membuat hati saya semakin gelisah. Bayangan ruang operasi, proses pemulihan yang panjang, serta berbagai risiko yang mungkin terjadi terus menghantui pikiran.
Malam-malam berikutnya menjadi malam yang panjang. Dalam keheningan kamar, saya sering terjaga hingga dini hari. Saya merenungkan perjalanan hidup yang telah saya lalui. Ketakutan datang silih berganti, tetapi pada saat yang sama saya juga merasakan dorongan untuk tetap tenang dan berserah diri kepada Allah SWT.
Setelah melalui berbagai pertimbangan bersama keluarga, saya memutuskan untuk tidak menjalani tindakan bedah radikal pada saat itu. Keputusan tersebut bukanlah pilihan yang mudah. Saya memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Namun, hati saya lebih condong untuk menempuh jalan yang saya yakini dapat memberikan ketenangan batin.
Saya kemudian memilih menjalani pengobatan herbal secara rutin. Setiap hari saya mengonsumsi jamur Ganoderma lucidum, kunyit putih, keladi tikus, dan daun sirsak. Pagi, siang, dan malam, saya berusaha disiplin menjalankan pola konsumsi herbal tersebut. Selain itu, saya juga mulai memperbaiki pola makan dan mengubah gaya hidup secara menyeluruh.
Perjalanan ini bukan perjalanan yang mudah. Ada hari-hari ketika tubuh terasa sangat lemah. Ada rasa nyeri yang datang tanpa peringatan. Ada pula saat-saat ketika saya merasa kehilangan semangat. Namun, saya belajar bahwa kesabaran bukanlah kemampuan untuk menahan rasa sakit tanpa keluhan, melainkan kemampuan untuk tetap melangkah meskipun rasa sakit itu hadir setiap hari.
Dalam masa-masa tersebut, saya menemukan makna baru tentang keheningan. Keheningan bukanlah tanda menyerah. Keheningan adalah ruang tempat saya berdialog dengan diri sendiri dan dengan Tuhan. Dalam diam, saya belajar menerima kenyataan. Dalam diam, saya belajar memaafkan ketakutan yang selama ini menguasai pikiran. Dalam diam, saya menemukan harapan.
Perubahan gaya hidup menjadi bagian penting dari perjalanan saya. Saya mulai lebih memperhatikan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Saya mengurangi berbagai makanan yang dianggap kurang baik bagi kesehatan dan memperbanyak konsumsi makanan alami. Saya juga berusaha menjaga pikiran agar tetap positif, menghindari stres yang berlebihan, serta memperbanyak ibadah dan doa.
Setiap pagi saya berusaha menyambut hari dengan rasa syukur. Saya menikmati sinar matahari yang hangat, udara segar, dan kesempatan untuk kembali bernapas dengan tenang. Hal-hal sederhana yang sebelumnya sering saya abaikan kini terasa begitu berharga.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Saya terus menjalani rutinitas tersebut dengan penuh keyakinan. Meski tidak selalu merasakan perubahan secara langsung, saya memilih untuk percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberikan hasil yang baik pada waktunya.
Memasuki bulan Mei 2026, saya mulai merasakan perubahan yang nyata. Kondisi tubuh terasa lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Keluhan yang dahulu sering muncul mulai berkurang. Energi saya perlahan kembali. Saya dapat beraktivitas dengan lebih nyaman dan menjalani hari-hari dengan semangat yang semakin tumbuh.
Perubahan tersebut bukan hanya terjadi pada tubuh saya, tetapi juga pada cara saya memandang kehidupan. Saya menyadari bahwa kesehatan bukan sekadar bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Ketika ketiganya berjalan selaras, seseorang akan memiliki kekuatan untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Memasuki bulan Juni 2026, saya merasakan kondisi yang jauh lebih baik. Tubuh terasa sehat seperti semula. Saya dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih leluasa. Rasa syukur yang memenuhi hati sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Perjalanan ini mengajarkan banyak hal kepada saya. Saya belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Terkadang, kita dipaksa berhenti sejenak untuk memahami hal-hal yang selama ini terlewatkan. Saya belajar bahwa ketakutan adalah bagian dari manusia, tetapi kita tidak boleh membiarkan ketakutan mengendalikan hidup kita.
Saya juga belajar bahwa harapan memiliki kekuatan yang luar biasa. Harapan mampu membuat seseorang bertahan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Ketika tubuh melemah, harapan menjadi energi. Ketika pikiran dipenuhi keraguan, harapan menjadi cahaya yang menunjukkan jalan.
Buku ini bukanlah ajakan untuk mengikuti pilihan yang saya ambil. Setiap orang memiliki kondisi kesehatan yang berbeda dan membutuhkan pertimbangan medis yang tepat. Namun, pengalaman ini menunjukkan bahwa sikap positif, kesabaran, disiplin menjalani pola hidup sehat, dukungan keluarga, dan kedekatan dengan Tuhan merupakan bagian penting dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
Hari ini, ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat perjalanan yang penuh air mata, ketakutan, doa, dan harapan. Namun, saya juga melihat perjalanan yang dipenuhi pelajaran berharga tentang arti kehidupan.
Jika ada satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada para pembaca, maka pesan itu adalah: jangan pernah menyerah. Seberat apa pun ujian yang sedang dihadapi, selalu ada alasan untuk tetap berharap. Selalu ada kesempatan untuk bangkit. Dan selalu ada hikmah yang tersembunyi di balik setiap kesulitan.
Karena saya percaya, tidak semua perjuangan terdengar keras. Ada perjuangan yang berlangsung dalam diam, jauh dari sorotan dan pujian. Namun justru dari perjuangan dalam keheningan itulah lahir kekuatan yang mampu mengubah hidup selamanya.
Inilah kisah saya. Kisah seorang guru yang belajar menjadi murid kehidupan. Kisah tentang bertahan, menerima, dan menemukan harapan di tengah keheningan.
Sebuah perjalanan yang saya sebut: Surviving in Silence.
