Jejak di Punggung Ciremai


 

Jejak di Punggung Ciremai


Oleh: H. Sujaya


Ada perjalanan yang hanya meninggalkan jejak di tanah. Namun ada pula perjalanan yang meninggalkan jejak di hati. Pendakian pertamaku ke Gunung Ciremai adalah salah satunya.


Semuanya berawal ketika aku masih duduk di bangku SMA. Saat itu aku bergabung dengan komunitas Pelajar Pecinta Alam (PPA) di sekolah. Anggotanya tidak banyak, hanya sekitar dua puluh orang; lima perempuan dan lima belas laki-laki. Meski jumlah kami sedikit, persaudaraan yang terjalin begitu erat. Kami dipersatukan oleh mimpi yang sama: mencintai alam dan belajar langsung dari semesta.


Setiap pulang sekolah, kami selalu berkumpul di sudut lapangan yang rindang. Di bawah teduhnya pepohonan, kami berdiskusi tentang berbagai hal. Kami belajar mengenali perlengkapan pendakian, cara bertahan hidup di alam bebas, mengenali tanaman yang dapat dimakan, membaca arah mata angin, hingga memahami karakter gunung-gunung di Jawa Barat.


Semua materi disampaikan oleh Hanan, ketua kelompok pecinta alam kami. Ia bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga menanamkan satu prinsip sederhana.


"Alam bukan untuk ditaklukkan, tetapi untuk dihormati."


Kalimat itu terus terngiang hingga sekarang.


Suatu hari, sekolah kami mengikuti lomba Kebut Bukit tingkat SMA. Kami mengirimkan dua tim, masing-masing beranggotakan lima orang. Aku tergabung dalam Tim 1.


Lintasan yang kami lalui benar-benar menguji ketahanan. Kami harus mencari jejak melewati pematang sawah yang licin, lapangan terbuka yang panas, perbukitan yang menanjak, semak belukar, hingga menyusuri perkampungan penduduk. Di beberapa titik kami harus membaca peta dan kompas agar tidak salah jalur.


Bagi kami, perlombaan itu bukan sekadar mengejar kemenangan.


Hanan berkata,


"Yang paling penting bukan menjadi juara. Yang terpenting adalah belajar mengambil keputusan ketika tubuh mulai lelah."


Kami memang tidak berhasil menjadi juara. Namun kami pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman, kekompakan, dan kepercayaan diri.


Latihan demi latihan akhirnya mengantarkan kami pada impian sesungguhnya.


Mendaki Gunung Ciremai.


Pendakian itu dijadwalkan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus. Sejak jauh hari kami telah mendaftarkan diri ke pihak Taman Nasional Gunung Ciremai karena kabarnya jumlah pendaki akan dibatasi. Benar saja, beberapa hari menjelang keberangkatan kuota sudah hampir penuh. Beruntung nama tim kami sudah lebih dulu terdaftar.


Saat itu musim kemarau sedang berlangsung. Langit biru hampir setiap hari menghiasi cakrawala. Jalur pendakian relatif aman dari hujan meskipun udara malam tetap menusuk tulang.


Hari yang kami tunggu akhirnya tiba.


Ransel besar telah terisi tenda, sleeping bag, jas hujan, pakaian hangat, logistik, kompor, nesting, senter, obat-obatan, dan perlengkapan lainnya. Bebannya terasa berat di pundak, tetapi hati justru terasa ringan karena dipenuhi semangat petualangan.


Langkah pertama menuju Gunung Ciremai pun dimulai.


Sejak memasuki jalur pendakian, aroma tanah yang lembap dan harum dedaunan langsung menyambut kami. Burung-burung hutan bersahutan seolah menyanyikan lagu selamat datang. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan, membentuk berkas-berkas emas yang menari di lantai hutan.


Setiap langkah menghadirkan rasa kagum.


Di Pos I, tubuh masih penuh tenaga. Tawa dan candaan terdengar di sepanjang perjalanan. Kami saling membantu mengatur langkah agar tidak terlalu cepat menguras tenaga.


Memasuki Pos II, jalur mulai menanjak. Napas mulai memburu. Keringat bercucuran meski udara pegunungan terasa dingin. Kami mulai memahami bahwa gunung mengajarkan kerendahan hati. Tidak peduli seberapa kuat seseorang, semua harus berjalan mengikuti irama alam.


Pos III menghadirkan hutan yang semakin rapat. Pohon-pohon tinggi menjulang seperti tiang-tiang raksasa penyangga langit. Lumut hijau menghiasi batang-batang tua. Sesekali terdengar suara ranting patah akibat langkah rusa atau satwa liar yang bersembunyi di balik semak.


Di sinilah keheningan memiliki suara.


Semakin tinggi kami mendaki, pepohonan mulai berkurang. Jalur berubah menjadi bebatuan vulkanik yang terjal. Angin bertiup semakin kencang membawa udara dingin yang menusuk hingga ke tulang.


Tubuh mulai letih.


Betis terasa kaku.


Punggung pegal.


Namun semangat tidak boleh padam.


Setiap kali ada teman yang mulai tertinggal, kami berhenti menunggu. Tidak ada yang berjalan sendiri. Di gunung kami belajar bahwa keberhasilan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak, tetapi tentang semua anggota yang bisa pulang bersama.


Menjelang subuh kami melanjutkan perjalanan terakhir menuju puncak.


Langit perlahan berubah warna.


Hitam berganti biru tua.


Lalu jingga mulai merekah di ufuk timur.


Dan akhirnya...


Kami berdiri di Puncak Ciremai.


Di hadapan kami terbentang lautan awan yang bergelombang seperti samudra kapas tanpa tepi. Puncak-puncak gunung lain muncul laksana pulau-pulau kecil yang mengapung di atas awan. Matahari perlahan terbit, memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan bumi.


Saat itulah aku benar-benar memahami betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan Tuhan.


Semua rasa lelah tiba-tiba menghilang.


Yang tersisa hanyalah rasa syukur.


Kami mengibarkan Sang Merah Putih di puncak Gunung Ciremai. Bendera itu berkibar gagah diterpa angin pegunungan. Di bawah langit Indonesia yang begitu luas, kami menyanyikan lagu "Indonesia Raya" dengan suara yang bergetar oleh rasa haru.


Itulah perayaan kemerdekaan yang tak akan pernah kulupakan.


Pendakian pertama tentu tidak lepas dari suka dan duka.


Ada kaki yang lecet.


Ada pundak yang memar karena beban ransel.


Ada malam yang begitu dingin hingga sulit memejamkan mata.


Ada rasa lapar ketika logistik mulai menipis.


Namun semua itu justru berubah menjadi cerita indah yang selalu kami kenang.


Gunung mengajarkan bahwa kehidupan adalah perjalanan mendaki.


Kadang jalannya landai.


Kadang menanjak tajam.


Kadang kita ingin menyerah.


Tetapi setiap langkah kecil selalu membawa kita lebih dekat kepada tujuan.


Dari Gunung Ciremai aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah takut, melainkan tetap melangkah meski rasa takut itu ada.


Aku belajar bahwa persahabatan tumbuh paling kuat ketika saling memikul beban.


Aku belajar bahwa alam adalah guru yang paling jujur.


Dan aku belajar bahwa puncak bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas.


Sejak pendakian pertama itu, aku jatuh cinta kepada gunung.


Gunung bukan sekadar tumpukan batu yang menjulang tinggi.


Ia adalah sekolah kehidupan.


Tempat manusia belajar tentang kesabaran, kerendahan hati, kerja sama, keberanian, rasa syukur, dan cinta kepada Sang Pencipta.


Sampai hari ini, setiap kali memandang siluet Gunung Ciremai dari kejauhan, hatiku selalu berbisik,


"Suatu saat nanti, aku akan kembali menapaki jalanmu. Bukan untuk menaklukkanmu, tetapi untuk kembali belajar darimu."